Thursday, January 18, 2018

KEPALA BAPAK UMRAH


Kepala bapak.

Usah memperalatkan memperolokan Kaabah rumah Allah. Acapkali ambil peluang menunjukan mempamirkan memperlihatkan kapada rakyat berpakaian ihram memegang mengira tasbih di Masjidil-Haram. 

Rakyat boleh dikaburi dikelentong dengan tayangan kealiman tetapi Allah lebih mengetahui semua didunia dilangit bisikan manusia syaitan semua makhluknya. Dimana bilamasa sehelai daun luruh Allah mengetahui.

Mintalah doa taubat ampun setelah merosakan negara songlap berbilion duit rakyat. Allah sentiasa menguji manusia pemerintah atas segala tanggungjawab rezeki rahmat. Syaitan jin iblis sentiasa membisik keindahan dunia menyesatkan iman haram itu indah. 

Disebabkan pemerintah dajjal firaun negara akan hancur lebur. Mudah bagi Allah melenyapkan yang lama dan menimbulkan penduduk baru. Tambahan bila ramai penduduk sesuatu negeri itu bersekongkol tidak menghalang kedurjanaan. Quran telah membayangkan menggambarkan kedatangan kiamat pasti. 

Wallah hu alam.

Sunday, January 14, 2018

PEMELUK ISLAM JEPUN SEBELUM 1900


(Arrahmah.com) – Saat awal era Renaissance Jepang, yang dikenal sebagai era Meiji, dimulai pada tahun 1868, hanya dua negara di Asia yang menikmati kemerdekaan, yaitu Kekhalifahan Ottoman dan Jepang.
Karena keduanya berada di bawah tekanan dari negara-negara Barat, mereka memutuskan untuk membangun hubungan persahabatan di antara mereka dan kemudian mereka mulai bertukar kunjungan. Yang paling penting dari kunjungan ini adalah misi yang dikirim oleh Abdul Hamid II (memerintah 1876-1909) ke Jepang dengan kapal laut Ertugrul yang mengangkut lebih dari enam ratus perwira dan tentara yang dipimpin oleh laksamana Uthman Pasha pada tahun 1890.
Di perjalanan pulang, setelah misi itu berhasil mencapai Jepang dan bertemu Kaisar Jepang, badai menerjang kapal saat masih di perairan Jepang, menyebabkan kematian lebih dari 550 orang termasuk adik Sultan.
Bencana tersebut membuat kedua pihak begitu bersedih dan awak kapal yang diangkur dengan dua kapal Jepang ke Istanbul. Para korban dimakamkan di lokasi kecelakaan dan sebuah museum didirikan tidak jauh dari lokasi kecelakaan. Turki Jepang dan masih memperingati kejadian ini sampai hari ini di tempat yang sama dari kecelakaan setiap lima tahun meskipun pemerintah yang berkuasa selalu berubah.
Seiring dengan kedatangan kapal dari Jepang dan tentara Turki yang selamat, seorang wartawan muda Jepang dengan nama Torajiro Noda ikut bersama rombongan dan membawa sumbangan dari Jepang untuk keluarga tentara Turki yang meninggal. Ia datang ke Istanbul, menyerahkan sumbangan tersebut kepada pemerintah Turki dan bahkan bertemu Sultan Abdul Hamid II, yang memintanya untuk tinggal di Istanbul dan mengajarkan bahasa Jepang kepada para pegawai Khalifah Turki Utsmaniyah.
Selama tinggal di Istanbul, dia bertemu Abdullah Guillaume, seorang Muslim Inggris dari Liverpool, Inggris yang memperkenalkan Noda kepada Islam. Cukup yakin setelah diskusi panjang bahwa Islam adalah kebenaran, Noda memeluk Islam dan memilih untuk berganti nama menjadi Abdul Haleem, sebuah pamflet dokumen Turki menunjukkan hal ini.
Bahkan, Abdul Haleem Noda bisa dianggap sebagai Muslim Jepang pertama. Segera setelah itu, seorang lain dari Jepang bernama Yamada pergi ke Istanbul pada tahun 1893 untuk memberikan donasi yang telah dikumpulkannya untuk keluarga tentara Turki yang meninggal di Jepang. Selanjutnya Yamada mempelajari Islam dan kemudian memeluk Islam, menjadi orang Jepang kedua memeluk Islam, ia mengganti namanya menjadi Khaleel, atau mungkin Abdul Khaleel. Dia tinggal di Istanbul beberapa tahun untuk berdagang dan terus melakukan hubungan persahabatan dengan Turki setelah pulang ke Jepang sampai kematiannya.
Orang Jepang ketiga untuk memeluk Islam adalah seorang pedagang Kristen dengan nama Ahmad Ariga. Ia mengunjungi Bombay, India pada tahun 1900. Pemandangan yang indah dari Masjid di sana menarik perhatiannya, ia pergi ke masjid dan menyatakan masuk Islam. Selama periode ini, sejumlah pedagang Muslim India tinggal di Tokyo, Yokohama, dan Kobe, mereka dianggap komunitas Muslim pertama di Jepang. (fath/muslimdaily/arrahmah.com)

Allah hu akhbar

Thursday, January 11, 2018

ZAHID - MR. PERFECT BULLSHIT


Zahid said that Mahathir made mistakes during his premiership. If he is premier again he would repeat the mistakes. He does not know what he is talking or just bullshitting to downplay Pakatan Harapan. 

What Zahid should know is that no one is perfect. Is he Mr Perfect? Even Nabi  Adam made mistakes. Is he is above nabi.  

Everbody make mistakes. Only a fool not to learn from mistakes and would repeat them. Mahathir is no fool instead many folds above the Mr. Bullshit. His mistakes are few much overweighed by his progressive developments for the country.

So what about Mr. Bullshit's mistakes:
1. He wanted to bring in 2,000,000 Bangladesh foreign workers without proper justifications as to the need and interest to the country. We have already 3,000,000 or more legal and illegal aliens. Bringing in would displace locals of jobs and create more employment. Najib being paranoid of IS elements shot the idea down at the last minute.  

What does Bangladesh feels about the matter. Empty promise. Inconpetent. Zahid's visit the Kutupalong Rohingyas was likely a cover to apologise to them. Anyway, what is the cut and who's who in the deal. Does the death of his son-in-law in strange circumstances ring any note!

2. During one his UMNO speeches Zahid flashed a fake ID card of Mahathir indicating that he is a mamak of Kerala. He would stoop down so low!

3. Zahid's RM230M cash asset was suspect in his declaration during Mahathir's time. Was it a donation just like Najib benefited? Mahathir should have pursued the matter as to the origin of that much amount of money. Zahid was the Chairman of Bank Simpanan Nasional at one time.

4. He pronounced that Syiah is not Islam in Parliament. Is he declaring the Iranians are kafirs? Who is this guy to play god? 

5. Early in political career he got physical and slapped someone in public. The case was brought to court and settled out-of-court. Is it a good example for a politician? 

6. Ask some people in UKM how was his PhD performance.

7. He has no historical sense and legacy. Bagan Datoh renamed to Bagan Datok (datoh sounds like jatoh!). I had visited the haphazard small by the coast town. Proof enough that Zahid acted like a gangster. He has forbidden certain factions of people to enter his constituency. 

8. The latest bull is that as Home Minister he forbid Mahathir to Anwar in the hospital. So much for democracy. Malaysia is a police state.


Come GE14 the gravest mistake will be on him. He will be history!

Wednesday, January 10, 2018

MO1 TO FLEE TO ARABIA?




Partial list of people on visit to Saudi Arabia perhaps preparing the groundwork to flee post GE14? Getting the 2.6B donation from Arabia  purely shows how close Najib is with the Arabs. They are certainly more than blood brothers. Look at this way, would your own multi-billionaire brother donate to you that much? 

Tetapi, berdasarkan senarai rombongan yang turut pergi bersamanya yang tular di media sosial, kita tentu tertanya-tanya, ini lawatan kerja atau lawatan keluarga? 

Jika lawatan kerja, apa perlunya anak, menantu, cucu dan adik-beradik Najib ikut sekali? 



extract: Shahbudin.com

Tuesday, January 9, 2018

ALFRED WALLACE WAS HERE


Alfred Wallace was a naturalist who spent many years all over in the Malay Archipelago studying and collecting specimens of plants and animals (insects, birds, mammals etc.). He was contemporary of Charles Darwin. He visited Melaka, Singapore, Sarawak and the rest of Borneo.


Timor men (from a photograph)

Ejecting an intruder.

Sago washing

Natives of Aru shooting the great bird of paradise.

Dobbo, in the trading season.

Monday, January 1, 2018

ANCIENT ISLAMIC CITYSCAPES - TANGIER, KANO, TRIPOLI, KASHAN


View of Kashan, in Iran, in the early XII/18th century. The engraving is from a book of travels published in Amsterdam in 1123/1711. Though not to be relied upon in detail, it gives a good impression ...


View of Tangier in 1669, by Wenceslaus Hollar.


The great walled city of Kano, the largest commercial center in West Africa, at the time Clapperton's visit there in 1824. Its heavily fortified perimeter measured twelve miles, enclosing a population of about forty thousand.


Photographic view of Tripoli in 1905 from the roof of the French consulate looking seaward. The cityscape changed little from the Barbary Wars era, with one notable exception, the great minaret of the Gurgi mosque.